Tampilkan postingan dengan label bedah-ebook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bedah-ebook. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2012

Analisa Teknikal Klasik Menggunakan Teori Dow Pada Pasar Valas

            Di bedah e-book kali ini kita akan mencoba menbedah isi dari e-book “Analisa Teknikal Klasik Menggunakan Teory Dow Pada Pasar Valas oleh HIFNI ZAINI (Wong Kito)

Dow Theory  atau  Teori  Dow merupakan  teori  dasar  dari  analisa  teknikal  yang pertama kali  dipublikasikan oleh Charles H. Dow (1851-1902) di  255 Wall  Street Journal, Dow merupakan seorang wartawan sekaligus editor dari Wall Street Jornal serta pendiri  Dow Jones and Company.  Penelitian pertama Dow dilakukan dengan membagi  saham-saham di  Wall Street menjadi  2 kelompok, yaitu Industrial Index dan Trasportation Index.  Dia mengatakan bahwa perkembangan industri  pabrikasi otomatis akan diikuti  pula oleh perkembangan industri  transportasi, karena pabrik membutuhkan  transportasi  untuk  mendistribusikan  barang-barang  hasil produksinya.
Dasar Teori Dow
1.   Pasar memiliki tiga gerakan
2.   Tren memiliki tiga tahap
3.   Pasar saham telah menyerap (discounted) semua berita
4.   Rata-rata pasar saham harus mengkonfirmasi satu sama lain
5.   Tren harus dikonfirmasi oleh volume
6.   Tren diasumsikan berlaku sampai memberikan sinyal yang pasti
Poin-poin  diatas  digunakan  sebagai  dasar  dalam ilmu  Teknikal  analisis.  Aturan – aturan tersebut  dikemukakan oleh Dow dan kemudian disempurnakan oleh para penerusnya.
PERFORMA TEORI DOW
Beberapa  penelitian  yang  dilakukan  menunjukkan  bahwa  Teknikal  Analisis  bisa dipakai  sebagai  salah  satu  metode  untuk  membangun  portfolio  dengan menggunakan  market  timing.  Penelitian sederhana  yang dilakukan  oleh Norman Fosbeck  menunjukkan  bahwa  “market  timing”  lebih  bagus  dalam menghasilkan keuntungan dibandingkan dengan Buy & Hold.  Masalah sederhananya adalah kita harus benar-benar menguasai tekniknya.
Berikut hasil penelitian Norman fosbeck yang dilakukan dari tahun 1964-1984
Sedangkan penelitian lainnya  yang dilakukan oleh Jacquiline Doherty (The Truth About Timing) dan dipublikasikan di Barrons (November 5,2001)
Penelitian lain yang dilakukan oleh Martin Pring dengan menggunakan metode Dow Theory
  • ·         Jika kita menginvestasikan $44 pada tahun 1977 dan mengikuti semua signal buy dan  sell  dari  Dow  theory,  maka  pada  tahun  1981  kita  sudah  menghasilkan keuntungan sebesar $18000
  •          Sementara jika kita menginvestasikan $44 dan hold portfolionya, maka pada tahun 1981 kita hanya menghasilkan keuntungan $960.

KRITIK TERHADAP DOW THEORY
Kritik terhadap Dow Theory yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa pada setiap pergerakan market yang trending, rata-rata jika menggunakan teknik ini kita telah ketinggalan hampir  20% dari  pergerakan market.  Memang pada beberapa kasus belakangan  ini  sudah  dikembangkan  metode  optimasi  agar  bisa  memperkecil ketertinggalan pergerakan itu.  Salah satunya dilakukan dengan memperkecil  time frame.
Pada  pengembangan  Dow theory  selanjutnya  mulai  muncul  adanya  elliot  wave theory yang membagi trend menjadi tiga bagian yaitu wave 1,3, dan 5 Elliot Wave mencoba mengeleminir kelemahan-kelemahan dari Dow Theory.
Ada beberapa hal yang dibahas oleh Dow Theory yang dapat gunakan oleh para trader sebagai Teknikal Analisis dalam Transaksi Valas, yaitu :
  •          Trend (Kecenderungan) Pergerakan Harga

1.    Phase-Phase Pergerakan Trend
2.    Pergerakan Harga Telah Merefleksikan Segalanya
3.    Keterkaitan Pergerakan Harga Antar Sektor
  •           Hubungan Volume dan Trend
  •           Analisa Puncak dan Lembah Dalam Trend

1.    Trend Naik Vs Trend Turun
2.    Keberlanjutan Trend dan Reversal
3.    Support dan Resisten
4.    Entry Buy dan Entry Sell
5.    Target Take Profit dan Stop Loss
Untuk lebih memahaminya apa dan bagaimana penerapannya dalam bertransaksi, silahkan download Disini

Rabu, 04 Januari 2012

Harmonic Trading System (+ Indicator)


Kali ini, saya akan mencoba untuk membahas mengenai pola harmonis. Pelajaran yang mungkin agak sedikit sulit, namun sekali anda bisa memahami maka akan bisa membantu anda untuk mendapatkan profit yang bagus.

Secara keseluruhan ide dari pola ini adalah untuk bisa memperkirakan kemungkinan sebuah retracement. Kita akan menggunakan alat bantu yang sudah kita bahas sebelumnya, yakni Fibonacci retracement dan extensions.

Dengan menggabungkan alat-alat ini akan sangat membantu kita untuk bisa membedakan area kelanjutan dari sebuah trend secara keseluruhan.
Pada pelajaran kali ini, ada beberapa hal yang akan kita bahas. Diantaranya adalah:


- Pola ABCD
- Pola 3-Drives
- Pola Gartley
- Pola Kepiting (Crab)
- Pola Kelelawar (Bat)
- Pola Kupu-kupu (Butterfly)

Setelah anda mempelajari dan bisa memahami semua pola diatas, coba tengok kebelakang, apa saja yang sudah anda miliki untuk melakukan trading di Forex. Hebat bukan?
Pola ABCD
Mari kita mulai pelajaran ini dengan pola harmonis yang lebih mudah. Untuk menggunakan pola ini, yang anda butuhkan adalah Fibonacci dan mata yang awas.
Kedua versi baik, Bullish ataupun Bearish dari pola ABCD, memiliki garis AB dan CD yang kita kenal dengan sebutan kaki. Sementara BC kita kenal dengan koreksi atau retracement.
Jika anda menggunakan fibonacci retracement pada kaki AB, retracement BC harus menyentuh hingga level 0.618. Kemudian garis CD harus berada di 1.272 Fib.Extensions dari BC.
           Mudah bukan? Yang perlu anda lakukan adalah menunggu hingga keseluruhan pola terbentuk (menyentuh point D) sebelum mengambil posisi Sell atau Buy.

        Namun, jika anda mau lebih ketat lagi, berikut adalah aturan untuk pola ABCD yang lebih valid:
- Panjang kaki dari AB harus ama dengan panjang kaki CD
- Waktu pada saat harga bergerak dari A ke B harus sama dengan waktu saat harga bergerak dari C ke D.
Three-Drives
Pola ini serupa dengan pola ABCD, perbedaannya adalah pola ini memiliki tiga kaki (dikenal dengan sebutan drives) dan dua koreksi atau retracements. Pola ini merupakan leluhur dari pola Elliott wave.

Seperti yang anda bisa lihat pada gambar diatas, A harus retracement 0.618 dari drive 1. Sama halnya dengan B harus extension 1.272 dari koreki A dan drive 3 harus extension 1.272 dari koreksi B.
Setelah pola terbentuk sempurna, itulah saat dimana anda bisa mengambil posisi Buy atau Sell. Jika harga menyentuh titik B, anda bisa mengambil order buy atau sell di extension 1.272 jadi anda tidak akan kehilangan momen.
Tetapi pertama-tama, ada baiknya untuk melihat aturan yang harus diterapkan:
- Waktu pada saat harga menyelesaikan drive 2 harus sama dengan waktu pada saat harga menyelesaikan drive 3.
Suatu ketika ada seorang trader hebat, ia bernama Harold McKinley Gartley.
Ia seorang penasehat pasar saham pada pertengahan tahun 1930-an. Pekerjaannya adalah menganalisa perilaku pasar saham.
Menurut Gartley, ia akhirnya bisa untuk menyelesaikan dua masalah besar dari seorng trader, yakni: apa dan kapan untuk membeli.
Berjalannya waktu, trader sadar bahwa pola-pola ini bisa diteapkan dipasar yang lain. Semenjak itu, bermacam-macam buku, software dan pola-pola lain dibuat dan dikembangkan berdasarkan prinsip dasar Gartley.
Pola Gartley alias Pola “222”
Pola Gartley “222” dinamakan sesuai dengaan halaman buku karangan H.M. Gartley, Pofits in the Stock Market. Pola Gartley adalah sebuah pola yang terdiri dari pola-pola dasar ABCD yang sudah kita bahas sebelumnya, tetapi ditambahkan dengan level tertinggi atau terendah yang signifikan.
Sekarang, pola ini umumnya terbentuk ketika sebuah koreksi dari keseluruhan suatu trend dan terlihat seperti huruf “M” (atau “W” pada pola bearish). Pola ini digunakan untuk membantu trader menemukan titik yang baik untuk mengambil posisi dan mengikuti/ masuk kedalam trend.

Pola Gartley terbentuk ketika harga sudah dalam sebuah trend baik uptrend maupun downtrend, akan tetapi sudah memberikan tanda akan muncul sebuah koreksi.
Apa yang membuat pola Gartley menjadi set-up yang tepat ketika terbentuk point reversal, sebuah level Fibonacci retracement dan Fibonacci extension. Hal ini memberikan indikasi yang kuat bahwa harga mungkin akan berbalik arah.
Pola ini sulit untuk dilihat dan ketika anda melihatnya, bisa sangat membingungkan. Di beberapa kasus, pola bisa terdiri dari sebuah pola ABCD bullish atau bearish, tetapi ini terjadi di point (X) yang berada dibelakang point (D).
Pola Gartley yang sempurna memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. AB harus .618 retracement dari XA.
2. BC harus paling tidak .382 atau .886 retracement dari AB.
3. Jika retracement BC adalah .382 dari AB, maka CD harus sebesar 1.272 dari C. Jika BC adalah .886 dari AB, maka CD harus ditambah 1.618 dri BC
4. CD harus sebesar .786 dari XA.
Pola Binatang
Seiring berjalannya waktu, popularitas dari pola-pola Gartley berkembang dan banyak orang yang mencoba dengan variasi mereka sendiri. Karena beberapa alasan, penemu dari beberapa variasi ini memutuskan untuk menamakan pola ini dengan nama binatang.
Pola Kepiting
Pada tahun 2000, Scott Carney, seseorang penganut pola harmonis menemukan pola “kepiting”.
Menurutnya, pola ini merupakan pola yang paling akurat diantara pola-pola harmonis karena begitu ekstrim Zona Reversal Potensial dari XA.
Pola ini memiliki rasio reward to risk yang sangat tinggi, karena anda bisa menempatkan stop-loss yang sangat ketat.
Pola kepiting yang sempurna harus memiliki aspek-aspek berikut:
1.       AB harus sebesar .382 atau .618 retracement dari XA.
2.      BC bisa sebesar .382 atau .886 retracement dari AB.
3.      Jika retracement BC adalah .382 dari AB, maka CD harus sebesar 2.24 dari BC. Dan jika BC adalah .886 dari AB, maka CD harus sebesar 3.618 extension dari BC.
4.      CD harus sebesar 1.618 extension dari XA.

Pola Kelelawar

Ditahun 2001, Scott Carney menemukan pola harmonis lainnya yang ia namakan pola “kelelawar”. Pola ini ditemukan oleh .886 retracement dari XA sebagai Zona Reversal Potensial.
Pola kelelawar memiliki aspek-aspek berikut:
1.       AB harus sebesar .382 atau .500 retracement dari XA.
2.      BC bisa sebesar .382 atau .886 retracement dari AB.
3.  Jika retracement dari BC adalah .382 dari AB, maka CD harus sebesar 1.618 extension dari BC. Dan jika BC adalah .886 dari AB, maka CD harus sebesar 2.618 extension dari BC.
4.      CD harus sebesar .886 retracement dari XA.

Pola Kupu-kupu
     Kemudian pola berikutnya adalah pola kupu-kupu. Diciptakan oleh Bryce Gilmore, pola kupu-kupu yang sempurna ditemukan pada .786 retracement dari AB.
Karakteristik dari pola ini diantaranya:
1.       AB harus sebesar .786 retracement dari XA.
2.      BC bisa sebesar .382 atau .886 retracement dari AB.
3.  Jika retracement dari BC adalah .382 dari AB, maka CD harus sebesar 1.618 extension dari BC. Dan jika BC adalah .886 dari AB, maka CD harus ditambah 2.618 dari BC.
4.      CD harus sebesar 1.27 atau 1.618 extension dari XA.
3. LANGKAH TRADING POLA HARGA HARMONIS
Dibawah ini adalah tahap-tahap pada pola harmonis:

ü   Step 1: Mencari potensi sebuah pola harmonis
ü   Step 2: Mengukur potensi pola harmonis
ü   Step 3: Buy atau sell pada pola harmonis yang terbentuk

Dengan 3 tahap dasar ini, anda bisa mendapatkan peluang besar yang bisa membantu
anda untuk mendapatkan profit. Mari kita lihat lebih lanjut!

Langkah 1: Mencari potensi sebuah pola harmonis


Wow, gambar diatas terlihat seperti pola harmonis yang potensial! Saat ini kita tidak yakin pola macam apa yang ada pada gambar diatas. Seperti sebuah pola three-drive, tetapi bisa juga pola kelelawar ataupun kepiting.

Langkah 2: Mengukur potensi pola harmonis

Gunakan alat bantu Fibonacci, sebuaj pulpen, dan secarik kertas, mari kita catat hasil pengamatan kita.


     

     1.        BC sebesar .618 retracement dari AB.
     2.       CD sebesar 1.272 extension dari BC.
     3.      Panjang AB  sama dengan panjang CD.
    4.      Pola ini sesuai dengan pola ABCD bullish, yang merupakan signal buy yang kuat.






Step 3: Buy atau sell pola harmonis yang terbentuk

Ketika pola sudah terbentuk, yang perlu anda lakukan adalah meresponnya dengan mengambil posisi buy atau sell.
Jika anda harus mengambil posisi buy di D, yang adalah 1.272 Fibonacci extension dari CB, dan menempatkan stop-loss di beberapa pip dibawah harga pada saat anda masuk posisi.
Mudah bukan? Sebenarnya tidak juga.. Masalah pada pola ini adalah bahwa mereka terlalu sempurna sehingga terkadang sulit untuk dilihat. Namun dengan latihan dan bisa juga dengan bantuan indicator maka hal ini akan menjadi lebih mudah.

Ingin mempelajarinya lebih lanjut ?! Download E-Booknya Disini
Atau Indicatornya (Harmonic + EA n Zup88) Disini



Rabu, 21 Desember 2011

RESISTANCE - SUPPORT LEVEL


      Resistance dan Support Level adalah level tahanan atau level Overbought atau level Oversold suatu pergerakan harga. Untuk dapat melampauinya dibutuhkan waktu atau kekuatan , sehingga saat harga bertemu dengan level – level ini harga akan berbalik arah (rebound) 

      Support adalah level dimana harga mendapatkan tahanan ketika harga mengalami penurunan. Harga lebih sering berbalik setelah menemui level ini dibanding melampauinya. Setelah terlampaui Support akan menjadi Resistance. Sedangkan Resistance level dimana harga mendapatkan tahanan ketika harga mengalami kenaikan. Setelah terlampaui resistance akan menjadi support.


Beberapa cara yang digunakan untuk menentukan Level Resistance dan Support, antara lain :

Fibonacci Retracement 

     Fibonacci Retracement adalah sebuah cara untuk menentukan tahanan dengan menggunakan hitungan Fibonacci. Untuk membuat Fibonacci Retracement yang perlu kita lakukan hanyalah menarik Fibonacci Retracement dari peak sampai peak untuk trend Bullish dan dari trough sampai peak untuk Bearish.


Contoh : Support dan Resistance Level dengan Fibonacci Retracement

Pivot Point

       Pivot point adalah suatu cara untuk mencari support dan resistance yang paling sederhana. Pivot point biasanya digunakan untuk mencari level support dan level berdasarkan pergerakan harga hari sebelumnya. Untuk menentukan support dan resistance dengan pivot point kita hanya butuh Higher (Harga Tertinggi), Lowest (Harga Terendah), dan Close (Harga Penutupan) hari sebelumnya. 

Setelah semuanya terkumpul kita hanya perlu memasukkannya kedalam rumus, yaitu :


 Pola Harga

      Cara menentukan Resistance dan Support dengan melihat pola harga adalah cara yang paling susah untuk dilakukan karena membutuhkan kebiasaan. Cara untuk menentukan harga dengan, dengan cara :
  • Menghubungkan garis horizontal pada grafik yang pada saat tersentuh berbalik arah, baik pada saat harga turun maupun harga naik. Pembalikan grafik tesebut minimal terjadi sebanyak 3 kali,
  • Semakin banyak grafik yang berbalik di satu harga, maka semakin kuat tahanan tersebut.
  • Garis yang berada di atas harga saat ini (Running) dijadikan Resistance sedangkan garis yang berada di bawah harga saat ini (Running) di jadikan support.

     Seteleh kita mengetahui bagaimana menentukan Support dan Resistance sekarang saatnya untuk kita belajar bagaimana menentukan Entry dan Exit Level dengan menggunakan Support dan Resistance Level.


Contoh : Pengambilan Posisi dengan Menggunakan Support and Resistance Level

Trend Following

      Trend following trading adalah system transaksi yang mengikuti trend yang sedang terjadi. Keputusan untuk pengambilan posisi diambil berdasarkan keberhasilan harga dalam menembus level Support / Resistance tertentu, contoh : Posisi Sell 4  pada gambar, dengan stop loss Support 1 (Setelah terlampaui menjadi Resistance)

Counter Trend

      Counter trend adalah suatu system transaksi yang memanfaatkan masa jenuh sebuah trend atau masa istirahat trend. Umumnya transaksi ini dilakukan saat harga koreksi. Entry levelnya adalah :

  • Sell pada saat harga menyentuh Resistance, Contoh : Sell 1, Sell2, dan Sell 3 pada gambar, Stoploss : Resistance 2
  • Buy pada saat harga menyentuh Support, Contoh Buy 1, dan Buy 2 pada gambar, Stop Loss : Support 2


Jumat, 16 Desember 2011

SIMPLE CANDLESTICK PATTERN


      Salah satu analisa yang di gemari oleh para trader dunia adalah Candlestick Pattern, oleh sebab itu saat ini saya mencoba mengajak teman - teman semua untuk sedikit belajar tentang candlestick Pattern. Terurama pattern yang dapat di katakan 90% akurat
     Analisa grafik menurut Pola Grafik membutuhkan skill yang sangat tinggi, karena analisa ini hanya dapat dilakukan dengan mengerti kebiasaan grafik. Trader professional pun jarang melakukan analisa dengan menggunakan pola grafik hal ini dikarenakan banyaknya pola dan syarat – syarat yang harus terpenuhi sebelum pengambilan posisi. Namun dari sekian banyak pola grafik yang ada, ada beberapa pola yang tingkat keberhasilanya mencapai 90%, pola – pola tersebut antara lain :

HEAD AND SHOULDER PATTERN 
     Yang pertama adalah Head and Shoulder Pattern, sesuai namanya, adalah formasi yang mirip dengan bentuk kepala dan bahu, yang memiliki implikasi reversal. Pola ini merupakan salah satu pola klasik yang memiliki validitas tinggi.

  Pola Grafik Head and Shoulder 

Syarat – syarat yang harus di penuhi, antara lain :
  • Bentuk: Struktur pola H&S, tentunya harus memiliki dua bahu (A dan C), dan kepala yang harus lebih tinggi dari kedua bahu.
  • Breakout terjadi ketika harga setelah membentuk bahu kanan (C) menembus garis neckline. 
  • Efek:   Reversal, sesuai arah breakout. 
Double Top dan Double Bottom

     Salah satu candlestick pattern yang paling sering dijadikan patokan bahwa suatu trend akan mulai berbalik arah adalah Double Top dan Double Bottom. Bahkan Double Top dan Double Bottom memilki tingkat akurasi mencapai 90%, hal inilah membuat Double Top dan Double Bottom ini sangat di gemari oleh para trader professional untuk Open Posisi.
      Double Top dan Double Bottom adalah salah satu bentuk grafik yang menandakan pembalikan harga. Dimana terdapat 2 High atau Low yang berhenti di resistant atau support yang sama, sehingga grafik yang terbentuk berbentuk huruf M (Menandakan Bullish Reversal) dan berbentuk huruf W (Menandakan  Bearish Reversal)

Syarat – syarat yang harus trepenuhi, antara lain :
  • Bentuk: Struktur Double Top harus memiliki dua peak yang sama, sedangkan Double Bottom harus memiliki 2 Trough ysng sama.
  • Breakout pada Double Top terjadi ketika harga setelah membentuk dua peak yang sama dan menembus trough, sedangkan untuk Double Bottom terjadi ketika harga telah membentuk dua buah Trough dan menembus peak. 
  • Efek:   Bullish Reversal untuk Double Top, dan Bearish Reversal untuk Double Bottom. 
Contoh : Double Top dan Double Bottom

Triangle

       Triangle merupakan salah satu continuing candlestick pattern yang terbentuk karena adanya pergerakan harga dengan range semakin mengecil, hal ini dapat dengan mudah ditemui dengan menggunakan trend line. Saat harga dapat menembus triangle pattern kadang kala dapat menunjukkan adanya reversal namun biasanya menunjukkan  continuing pattern. 
       Ada tiga bentuk triangle pattern yang selama ini sering digunakan dalam transaksi forex, yaitu :

Symmetrical Triangle Pattern

      Symmetrical Triangle Pattern biasanya terbentuk karena adanya dua buah trend yang saling berlawanan. Pengambilan posisi biasanya dilakukan saaty salah satu trend tertembus.
      Symmetrical triangle pattern ini biasanya terbentuk karena kosolidasi dari trend besar dan trend korensi dari sebuah mata uang. Harga yang terdapat didalam symmetrical triangle ini merupakan harga konsolidasi untuk melanjutkan trend sebenarnya, namun kadang kala membenttuk reversal trend.

Contoh : Symmetrical Triangle Pattern pada GBPUSD

Ascending Triangle Pattern

      Ascending Triangle Pattern adalah salah satu bentuk dari tringle yang terjadi pada saat ada trend bullish dengan Ressistant yang kuat sehingga di butuhkan konsolidasi untuk menembus resistant tersebut. Ascending Triangle ini dapat dikenali dengan adanya trend line uptrend yang telah terbentuk sempurna dan adanya garis horizontal yang menunjukkan resistant.
      Biasanya trend ini akan dilanjutkan saat ada harga yang menembus resistant tersebut, hal ini dikarenakan volume yang dibutuhkan untuk melanjutkan trend tersebut telah terpenuhi.

Contoh : Ascending Triangle Pattern

Descending Triangle Pattern

      Descending Triangle Pattern adalah salah satu bentuk dari tringle yang terjadi pada saat ada trend Bearish dengan Support yang kuat sehingga di butuhkan konsolidasi untuk menembus resistant tersebut. Descending Triangle ini dapat dikenali dengan adanya trend line downtrend yang telah terbentuk sempurna dan adanya garis horizontal yang menunjukkan Support.
        Bisanya ternd ini akan dilanjutkan saat ada harga yang menembus support tersebut, hal ini dikarenakan volume yang dibutuhkan untuk melanjutkan trend tersebut telah terpenuhi.

Contoh : Descending Triangle Pattern

Cara penentuan level entry dan stop dengan menggunakan Triangle Pattern, yaitu :
  • Ambil posisi BUY pada saat harga menembus level trendline atas dan open diatas resistance sebelumnya. Target profit di atas harga open dengan jarak yang sama dengan range pada triangle.
  • Ambil posisi SELL pada saat harga menembus level trendline bawah dan open bawah support sebelumnya. Target profit di bawah harga open dengan jarak yang sama dengan range pada triangle.
  • Ingat : pada Symmetrical Triangle Pattern harga perpotongan kedua Trend line merupakan harga Pivot, yang nantinya pada saat harga sudah mampu menembus trend line namun belum mampu menembus support/resistance natinya ada kemungkinan harga tersebut akan dijemput kembali. Dan merupakan level harga penntuan atau dapat juga dujadikan Level Stop.
  • Level stop loss pada descending Triangle adalah support dari triangle tersebut. Sedangkan level Stop Loss pada ascending Triangle adalah pada level Resistance.
Contoh : Level entry pada Symmetrical Triangle Pattern

Contoh : Level Entry dan target pada Descending Triangle Pattern

Contoh : Level Entry dan target pada Ascending Triangle Pattern

       Pada dasarnya akan sangat sulit bagi kita untuk dapat menemukan Pattern - Pattern diatas, apalagi bagi kita yang belum terbiasa dengan candlestick pattern, namun dengan seringnya kita memperhatikan grafik dan berlatih dengan candlestick pattern tersebut maka kita akan semakin terbiasa. 

Silahkan Download e-booknya (My 4x Trading System) Disini

Selasa, 13 Desember 2011

TEKNIK ANALISA 123 ~ PART 2 ~

4.    PENERAPAN TEORI 123, ELLIOT WAVE & FIBONACCI

Ketiga teori di atas dapat diterapkan secara bersamaan dalam Time Frame berapa saja. Prinsip dasar sebenarnya yaitu prinsip breakout strategi juga dimana secara psikologis harga akan bergerak berkelanjutan jika berhasil menembus level high atau low sebelumnya.


Strategi 1 :

v  Tentukan dahulu swing harga yang sudah terjadi dengan sempurna (level High & Low) dan pastikan harga sekarang ada di antara level High & Low
v  Pasang order stop BUY pada level High + 2xspread, dam pasang order stop SELL pada level low – 2xspread
v  Pasang Stop Loss untuk kedua order tersebut di level 50% Fibonacci atau pada posisi high/low
v  Jika Anda ingin menggunakan Target Poin gunakan level Fibonacci Expantion sebagai target poin. (Jika Anda tidak ingin menggunakan Target Poin bisa lanjutkan ke Strategi 2)
v  Pindahkan Entry Anda yang belum tersentuh ke level swing baru yang sudah terbentuk sempurna. Hal ini berguna apabila Trend berubah dan harga berbalik arah sebelum mencapai target poin.

Strategi 2 : Trailing Stop

Jika harga sudah menembus Entry poin dan berhasil mencapai target yang diharapkan gunakan Trailing Stop untuk meminimalkan resiko dan mengamankan profit yang sudah Anda dapatkan.

Add caption
Gunakanlah selalu Stop Loss (SL) dan pindahkan SL jika target sudah tercapai.


Contoh :
C = harga saat ini
B = entry order Buy
A = entry order Sell
D = prediksi Target Poin

Saat swing C-D terbentuk, pindahkan SL ke B sehingga posisi Anda aman, resiko = 0

Saat swing E-F terbentuk, pindahkan SL ke E  Diposisi ini profit Anda aman.

Saat swing G-H terbentuk, pindahkan SL ke G Begitu seterusnya.

Strategi 3 : Compounding Profit

 Tambahkan entry point saat harga sudah mencapai target.

Contoh :
C = harga
B = entry order Buy
A = entry order Sell
D = Prediksi Target Poin

Saat swing C-D terbentuk pindahkan SL ke B  Sehingga posisi Anda aman, resiko = 0

Saat swing E-F terbentuk pindahkan SL ke E Diposisi ini profit Anda aman.

Saat harga di G stop order Buy di F dengan SL di G

Saat swing G-H terbentuk pindahkan SL1 ke G
Begitu seterusnya tambahkan order Buy setiap posisi
Anda aman maka profit Anda akan berlipat-lipat.


5.    KELEMAHAN TEORI 123, ELLIOT WAVE & FIBONACCI

Tidak ada satupun teori yang 100% sempurna begitu pula dengan ketiga teori di atas. Meskipun teori di atas dapat memperkirakan formasi yang akan terjadi tetapi tidak dapat menentukan kemanakah arah zigzag selanjutnya? Arah zigzag dapat terjadi baik ke atas maupun ke bawah. 



Kalau kita lihat chart di atas seharusnya harga bergerak naik sesuai prinsip Elliot Wave tapi kenyataannya zigzag malah terbentuk ke bawah.

Kelemahan lain teori ini adalah apabila terjadi gerak sideway (consolidasi). Biasanya gerak sideway terjadi setelah adanya swing yang cukup panjang. Untuk mengetahui market sideway gunakan indikator tambahan untuk melihat kekuatan momentumnya.

Contoh : (indikator MACD, Oscilator MA & Slow Stochastic)





Setelah terjadi swing yang cukup panjang A-B, disusul kemudian retracement BC lalu swing C-D. Pada C-D tidak bergerak jauh dari level B karena momentum lemah (MACD trend Up, Osma Up, Stochastic oversold). Kemudian terjadi swing D-E. Disusul kemudian swing E-F dimana F menyentuh level D. Menurut teori seharusnya harga akan terus bergerak turun, tetapi harga malah berbalik karena momentum tidak kuat (MACD trend Up, Osma Up, Stochastic oversold). Hingga terbentuklah swing F-G, sekali lagi terjadi harga menyentuh level E yang menurut teori harga seharusnya terus bergerak naik malah berbalik (MACD masih trend Up, Osma mulai menurun, stochastic overbought).

Bila terjadi market sideway sebaiknya gunakan indikator untuk mengambil keputusan.

Salah satu contoh Fibonacci yang gagal :


 



A = stop order BUY
B = stop order SELL
C = harga saat ini
SL di 50%






Pada contoh di atas harga menyentuh stop order Sell di D tetapi harga malah berbalik ke E. Pindahkan stop order Buy di C dengan SL buy pada level 50% swing Fibo yang baru. 



Harga kemudian bergerak kembali menuju F, pindahkan stop order Buy ke titik E dengan SL buy pada 50% swing yang baru.



Saat harga menyentuh level E maka order Sell yang sudah aktif akan close terkena SL, elanjutnya yang aktif adalah order Buy hingga mencapai titik G. Dalam trading ini Anda loss kurang lebih 50% dan win kurang lebih 50% sehingga resiko Anda menjadi 0.

Untuk mengatasi kelemahan teori ini tetap harus didukung dengan indicator lainnya, support & resistance. Dan jangan lupa tambahkan spread dalam entry order Anda.


Masih BingunG ?! Silahkan Download E-Booknya Disini