2. Faktor Teknikal (Technical Analysis)
Analisa teknikal merupakan suatu bentuk analisis pergerakan pasar dengan menggunakan informasi harga di masa lampau.
Analisa Teknikal, hanya membutuhkan perilaku pasar sebagai satu-satunya sumber data untuk dianalisis dan menghasilkan perkiraan selanjutnya. Ia hanya perlu melihat ke grafik dan mengenali tanda-tanda pergerakan harga. Berbeda halnya dengan analisa fundamental yang menyandarkan diri pada faktor sebab bergeraknya harga, analis teknikal fokus pada hanya pada akibat.
Objek utama analisis teknikal adalah harga yang ditampilkan ke dalam bentuk grafik, yang kaya akan informasi. Bagaimana harga tersebut bergerak, kapan mencapai level tertentu dan kemana arah yang dituju dapat diketahui dengan mudah melalui technical analysis ini. Banyak manfaat yang bisa diambil oleh investor atau trader untuk membantu mengambil keputusan transaksi, antara lain :
- Mempelajari perilaku grafik harga dimasa lampau dengan tujuan memperkirakan performa dimasa yang akan datang.
- Dapat dipakai untuk semua instrument aset yang diperdagangkan karena mempunyai cara pendekatan yang sama. Kecenderungan pergerakan harga (Trend Harga), kondisi overbought ataupun oversold suatu instrument asset, dapat anda dipelajari dari technical analysis.
- Identifikasi spesifik level entry dan exit
- Dan memudahkan investor atau trader dalam menyusun sistem trading dengan jauh lebih mudah dan lengkap.
Dasar Technical Analysis
Perilaku seluruh pihak yang terlibat di pasar hanya muncul dalam tiga bentuk aktifitas, yaitu :
- Membeli : Melakukan pembelian terhadap instrumen tertentu, baik untuk posisi baru atau untuk likuidasi posisi sebelumnya
- Menjual : Melakukan penjualan terhadap instrumen tertentu, baik untuk posisi baru atau untuk likuidasi posisi sebelumnya.
- Mengamati : Memilih untuk tidak mengambil posisi baru atau melikuidasi posisi yang ada, atau menahan posisi hingga waktu atau harga tertentu.
Setelah mengetahui perilaku pasar, selanjutnya hanya perlu melihat ke grafik dan mengenali tanda-tanda pergerakan harga
Analisa teknikal berpijak pada 3 asumsi dasar, yaitu :
- Market discount everything, Harga yang muncul di pasar merupakan hasil dari kombinasi seluruh faktor yang menyebabkan berubahnya harga. Pembelian di harga tertentu yang dilakukan oleh satu orang atau lebih, merupakan cerminan dari informasi, pengetahuan dan emosinya. Sehingga bagi analis teknikal, memperkirakan harga dapat dilakukan dengan hanya mengamati pergerakannya.
- Price move in trend, Harga cenderung bergerak ke arah yang sama selama beberapa periode. Pergerakan tersebut dapat naik, turun atau naik turun dalam area tertentu (sideway) membentuk pola-pola yang efeknya dapat dikenali. Analis teknikal percaya bahwa harga tidak bergerak secara acak, sehingga dapat diperkirakan. Jika harga rupiah selama satu minggu terakhir mengalami kenaikan, maka minggu depan harga akan cenderung berlanjut sampai tanda berakhirnya kenaikan tersebut muncul secara jelas.
- History repeat itself, Pola-pola tertentu yang dibentuk oleh pergerakan harga yang terjadi di masa lalu akan terulang kembali dan menimbulkan efek yang sama di masa depan. Analis teknikal percaya bahwa perilaku transaksi manusia yang didorong oleh informasi, keinginan dan emosi secara masal cenderung akan berulang, misalnya sekerumunan massa yang melakukan antrian akibat kelangkaan minyak tanah pada saat ini akan kembali mengulang perilakunya dimasa depan ketika menghadapi situasi yang sama.
Seorang trader atau investor hanya membutuhkan harga dan volume untuk dapat melakukan analisa teknikal. Dimana harga adalah nilai uang dari aset yang dipedagangkan, dan volume adalah jumlah transaksi.
Ada dua jenis volume yang terdapat di pasar, yaitu :
- Volume capital yang berisi jumlah modal yang terlibat dalam setiap transaksi. Pada umumnya penggunaan volume capital terjadi di saham, karena jumlah saham dan total jumlah modal yang terlibat dapat diperoleh pada akhir perdagangan.
- Volume tick (atau transaksi), Yakni satu volume terhitung setiap terjadi transaksi dalam periode tertentu.
Dalam forex, karena perdagangan terjadi dimana saja diseluruh penjuru dunia, maka mustahil diperoleh volume capital yang terlibat dalam periode tertentu, maka volume yang digunakan adalah volume tick, atau transaksi.
Kedua data yang diperlukan tersebut dapat kita peroleh secara langsung melalui grafik, yang saat ini banyak disediakan oleh perusahan pialang melalui platform trading.
Contoh :Pergerakan Harga AUDUSD dan Volume Transaksinya
Alat – Alat Technical Analysis
Adapun alat – yang digunakan dalam analisa teknikal, antara lain :
Grafik (Chart)
Grafik adalah kumpulan harga yang disusun kedalam ukuran waktu tertentu. Grafik ini tidak ubahnya dengan grafik manapun, biasanya memiliki dua dimensi, yakni X yang bergerak kesamping kanan dan wewakili perubahan waktu, serta Y yang bergerak keatas dan mewakili perubahan harga.
Contoh : Grafik Pergerakan harga GBPUSD
Dalam analisa teknikal, model grafik ada berbagai macam, antara lain :
Line Chart
Model grafik ini hanya berisikan sebuah garis yang menguhubungkan penutupan perdagangan yang satu dengan yang lain. Misalnya jika pada hari pertama perdagangan harga berakhir di level 100, dan di hari kedua ditutup diharga 200 dan di hari ketiga 150 seperti pada contoh gambar, maka garis lurus dapat digambar dari 100 menuju 200 kemudian 150, dari arah kiri ke kanan.
Line chart tidak menyediakan informasi harga tertinggi, terendah dan harga pembukaan pasar, sehingga fluktuasi harga selama periode tersebut tidak dapat dipantau.
Candlestick Chart
Grafik ini merupakan grafik tertua yang ditemukan oleh analis teknikal. Bangsa Jepang dipercaya telah menggunakan grafik ini untuk berdagang beras sejak abad ke-17, namun menurut Steve Nison, candlestick pertama kali muncul pada tahun 1850, dan orang yang terus menerus mengembangkan dan berjasa mengantarkan candlestick ke tangan kita sekarang disebut-sebut adalah Homma, seorang trader beras yang melegenda dati kota Sakata.
Struktur tubuh Candlestick memiliki kesamaan dengan Barchart, teradapat unsur Open, High, Low dan Close. Perbedaanya hanya terletak pada visualisasi tubuh yang menyerupai batang lilin.
Harga yang mengalami kenaikan biasanya dibentuk dengan warna terang, dan harga turun dengan warna gelap. Selain berfungsi sebagai salah satu tipe grafik seperti halnya bar chart, candlestick juga memiliki model analisa tersendiri yang telah luas digunakan oleh trader di dunia.
Bar Chart
Bentuk bar chart menyerupai batang yang memiliki tangkai di kiri dan kanan, dan memiliki informasi yang lebih lengkap, berisi harga pembukaan, tertinggi, terendah dan penutupan.
Harga pembukaan berada pada tangkai kiri, dan penutupan pada tangkai kanan. Sementara ujung dari batangnya mewakili harga tertinggi dan terendah dalam satu perdiode tertentu.
Indicator dan Oscillator
Perbedaan indikator dan oscillator dalam analisa teknikal terletak pada batasan perhitungannya. Indikator tidak memiliki batas atas dan bawah, misalnya Moving Averages. Sementara oscillator bergerak terbatas didalam area tertentu, misalnya 0 sampai 100, atau bergerak diarea positif negatif dengan area tengah 0. RSI dan Stochastic adalah contoh dari Oscillator yang menggunakan limit 0-100 dan MACD yang menggunakan midpoint 0.
Secara praktis, indikator dan oscillator tidak harus dibedakan sedemikian rupa, karena keduanya menggunakan dasar dan manfaat yang sama. Dua indicator yang sering digunakan oleh para trader, antara lain :
- Relative Strength Index (RSI)—Indikator teknikal yang menunjukkan kekuatan harga dengan membandingkan penutupan harga keatas dan ke bawah.
- Moving Averages (MA)—Indikator yang menunjukkan harga rata-rata pasar dalam periode tertentu. Biasanya digunakan untuk mengenali tren.
Contoh : Penggunaan Indicator dan Oscilator pada Grafik
Mengenal Trend Pergerakan Harga
Salah satu manfaat menggunakan analisa teknikal adalah dapat dipakai untuk semua instrument aset yang diperdagangkan karena mempunyai cara pendekatan yang sama. Kecenderungan pergerakan harga (Trend Harga), kondisi overbought ataupun oversold suatu instrument asset.
Jenis trend dapat dibedakan menjadi 2 (Dua), yaitu :
Berdasarkan Waktu
- Jangka Panjang (Long Term)
Trend Longterm adalah trend pergerakan harga yang bertahan dalam jangka waktu yang panjang, biasanya trend ini bertahan selama 6 bulan sampai dengan tahunan . biasanya menngunkan grafik Daily (D1), Weekly (W1), Monthly (MN)
Contoh : Up Trend GBPUSD dai tahun 2000 sampai tahun 2008
Trend Intermediate adalah trend pergerakan harga yang bertahan selama 2 minggu sampai 6 bulan. Grafik yang digunakan Hourly (H1), Four Hourly (H4).
Contoh : Uptrend GBPUSD dari 12, Oktober 2009 sampai 30, November 2009
- Jangka Pendek (Short Term)
Trend Short term adalah trend pergerakan harga yang bertahan selama 1 hari sampai 1 minggu. Grafik yang digunakan adalah 5 Minute (M5), 15 Minute (M15),dan 30 Minute (M30)
Contoh : Up Trend GBPUSD dari 15, January 2010 sampai 19, January 2010
Berdasarkan Arah
Sederetan Higher High (HH) dan Higher Low (HL). Atau dengan bahasa lain, adalah pergerakan harga yang berulang kali membentuk puncak dan lembah yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.
Contoh : Bullish atau Trend Naik
Sederetan Lower High (LH) dan Lower Low (LL). Atau, secara berulang membentuk puncak dan lembah yang lebih rendah dibanding sebelumnya.
Contoh : Bearish atau Trend turun
Harga yang tidak membentuk sederetan HL-HH atau trading dalam range
Analisa teknikal merupakan analisa yang dipakai oleh 70% trader didunia, maka melalui penguasaan analisa teknikal, kita dapat menyusun sistem trading dengan jauh lebih mudah dan lengkap. Dan tentunya 70% kemungkina Profit telah kita miliki. Namun tentu saja, analisa dan hasil perkiraan teknikal tidak bersifat mutlak atau pasti, namun membantu trader atau investor untuk mempersiapkan langkah antisipasi tentang kemungkinan-kemungkinan pergerakan harga.