Di postingan saya kali ini saya ingin membahas tentang candlestick tersebut, baiklah mari kita mulai.
Candlestick pertama kali dikembangkan pada abad 18 oleh bisnisman asal Jepang yang bernama Munehisa Homma, yang menggunakan candlestin ini untuk menganalisa harga beras. Homma yang berasal dari Sakata, Jepang pertama kali bertransaksi jual-beli beras di pasar local sekitar tahun 1975. Saat itu dya membuat catatan tentang psikologi pasar untuk meningkatkan keuntungannya dengan cara menganalisa harga dengan hati – hati dan tidak terburu – buru untuk masuk pasar.
Hasil catatan yang dibuat oleh Homma saat itu di buat dalam bentuk pola – pola harga yang membentuk grafik dan menciptakan pola pergrakan harga. Dari catatan Homma ini akhirnya dijadikan dasar teknik analisa yang digunakan di Jepang. Oleh sebab itu Homma pun di nobatkan sebagai penemu Candlestick Pattern.
Setelah bertahun – tahun lamanya akhirnya pada tahun 1989 akhirnya Steve Nisson membuat buku Candlestick Charting, yang membahas tentang candlestick dan membuat candlestick di kenal oleh para trader di dunia.
Bentuk Dasar Candlestik
Struktur tubuh Candlestick memiliki kesamaan dengan Barchart, teradapat unsur Open, High, Low dan Close. Perbedaanya hanya terletak pada visualisasi tubuh yang menyerupai batang lilin.
Harga yang mengalami kenaikan biasanya dibentuk dengan warna terang, dan harga turun dengan warna gelap. Selain berfungsi sebagai salah satu tipe grafik seperti halnya bar chart, candlestick juga memiliki model analisa tersendiri yang telah luas digunakan oleh trader di dunia.
Sedangkan untuk bentuk – bentuk dasar dari candlestick sendiri ada 14 bentuk yang paling ditemuai dalam pergerakan harga setiap harinya, antara lain :
White candle adalah sinyal bullish, yang terjadi ketika open berada didekat low dan close berada di dekat high, sedangkan panjang body mencerminkan volume pergerakan harga semakin panjang body menandakan semakin kuatnya trend bullish yang terjad
2. Black Candle
Black candle adalah sinyal bearish, dimana open berada di dekat high dan close berada di dekat low, sedangkan panjang bodynya menunjukkan volume pergerakan harga dan semakin panjang bodynya maka semakin besar pula trend bearish yang terjadi.
3. Long Lower Shadow
Long Lower Shadow adalah sinyal bullish, dimana harga jarak dari high ke close lebih kecil dari pada jarak dari open ke low. Semakin panjang lidi yang terbentuk dari low ke close maka semakin kuat Trend bullish yang terjadi
4. Long Upper Shadow
Long Upper Shadow adalah sinyal bearish, dimana jarak antara high ke open lebih panjang dari jarak antara low ke close. Semakin panjang jarak antara open ke high maka semakin kuat juga trend bearish yang sedang terjadi
5. Hammer
Hammer adalah sinyal untuk berish reversal, dimana close dan high sama, sedangkan jarak antara open ke close lebih besar dari pada body candle itu sendiri.
6. Inverted Hammer
Inverted hammer adalah sinyal untuk bullish reversal, dimana close sama dengan low, sedangkan jarak antara open ke high lebih besar dari body candle itu sendiri.
7. White Spinning Top
White Spinning Top adalah Candle consolidation, dimana candle memiliki body dan lidi yang kecil. Hal ini menunjukkan bahwa buyer dan seller sedang bertarung memperebutkan posisi di market. Dan buyer memiliki volume yang sedikit lebih besar daripada seller. Saat terbentuk candle ini maka sebaiknya kita menunggu konfirmasi dari candle selanjutnya.
8. Black Spinning Top
Sama seperti white spinning top, candle ini menunjukkan trend consolidation, dimana buyer dan seller sedang bertarung untuk mendapatkan posisi, dan dalam kondisi ini seller sedikit lebih besar volumenya dibandingkan buyer. Tunggu candle selanjutnya untuk menentukan posisi apa yang akan kita ambil.
9. Doji
Doji adalah candle dimana harga open dan close sama, sehingga tidak memiliki body. Candle doji ini menunjukkan bahwa market kekuatan buyer dan seller sama besarnya. Doji biasanya juga akan menunjukkan bawa arah pergerakan market akan berubah, namun keberadaan satu candle doji saja tidak cukup untuk mengkonfirmasi perubahan trend dan butuh konfirmasi dari candle selanjutnya.
10. Long Legged Doji
Long Legged Doji adalah candle yang memiliki open dan close yang sama namun memiliki lidi yang panjang. Sama seperti doji candle ini menunjukkan buyer dan seller sama kuat, namun di long legged doji memiliki volume yang lebih besar daripada doji, hal ini dapat terlihat dari panjangnya lidi, semakin panjang lidi berarti semakin besar volumenya. Namun untuk pengambilan posisi tetap harus menunggu konfirmasi dari candle selanjutnya.
11. Dragonfly Doji
Dragonfly Doji adalah candle dimana open, close dan high ada pada harga yang sama, sementara Low berada jauh dibawah. Hal ini menunjukkan akan adanya bullish reversal, hal ini terlihat dari harga yang begitu open langsung mengalami penurunan tajam, namun di tutup naik kembali ke high. Namun ada baiknya pengambilan posisi di ikuti dengan konfirmasi dari candle selanjutnya.
12. Gravestone Doji
Gravestone Doji adalah kebalikan dari dragonfly doji dimana pada gravestone doji harga open, close, dan low berada pada harga yang sama. Dan pada gravestone doji menunjukkan bahwa akan adanya bullish reversal, namun pengambilan posisi tetap harus menunggu konfirmasi dari candle selanjutnya.
13. White Morobozu
White Morobozu merupakan candle yang memiliki full body atau tidak memiliki lidi dimana open sama dengan low, sedangkan close sama dengan high. Hal ini menunjukkan adanya transaksi dengan volume yang sangat besar sehingga terjadi trend bullish yang sangatlah kuat.
14. Black Morobozu
Black Morobozu sama seperti white morobozu, merupakan candle yang full body tanpa adanya lidi, dimana open sama dengan high, sedangkan close sama dengan low. Candle ini menunjukkan adanya trend bearish yang sangat kuat.
Ok !!! Sekarang kita mengetahui bentuk - bentuk candle dan fungsinya, lalu bagaimana dalam penerapannya ?! Saya akan bahas lagi di postingan saya selanjutnya
HappY TradinG ^_^


Tidak ada komentar:
Posting Komentar